Limbah yang Mengundang Rupiah SUDAH 21 tahun Ayu berbisnis daur ulang limbah berbasis rumah produksi. Tidak main-main, produk olahannya kini sudah dipasarkan di Jepang, Tiongkok, negara-negara Eropa dan… 12 … 27 April 2016, 14:19 WIB

SUDAH 21 tahun Ayu berbisnis daur ulang limbah berbasis rumah produksi. Tidak main-main, produk olahannya kini sudah dipasarkan di Jepang, Tiongkok, negara-negara Eropa dan Amerika serikat.

Tidak heran memang melihat produk olahan limbah karya Ayu yang unik, salah satunya stoples kaca yang dibuat mengikuti bentuk akar kayu jati nan cantik. Produk yang dipamerkan di Gerai Rumah Indonesia dalam Hong Kong Convention and Exhibition centre (HKCEC) termasuk yang tidak pernah sepi pengunjung. Ayu mengatakan tiap bulan sekurangnya ada pesanan satu kontainer yang harus ia layani.

“Rata-rata tiap bulan ada pesanan satu kontainer, itu sekitar USD 30 ribu dolar. Jadi tiap tahun rata-arat US$360 ribu dolar, 60% ke Amerika Serikat,” terang wanita bernama lengkap Ayu Anggraeni saat ditemui di sela pameran, Rabu (27/4).

Ayu bercerita tiap April ia rutin mengikuti pameran di seluruh Asia. Sebelum Hong Kong, produk yang dipasarkan di bawah bendera PT Putri Ayu Bali Indonesia itu juga dipamerkan di Jakarta, Taiwan, Vietnam, dan Filipina. Karena sudah terhitung pemain lama, rata-rata konsumennya tidak membeli di tempat melainkan memesan dalam jumlah besar untuk dipasarkan di negara masing-masing.

Untuk memenuhi permintaan yang masif tersebut, Ayu mengkaryakan 30 pengrajin kaca dan lebih dari 100 pemahat di sekitar rumahnya di Gianyar, Bali.

“Biasanya pembeli datang dulu ke pabrik di Gianyar, lihat material dan proses produksinya, baru mau memesan,” tutur Ayu.

Pembeli umumnya tertarik lantara produknya merupakan daur ulang. Stoples unik yang menurutnya dibuat dengan teknik blowing glass, misalnya, merupakan daur ulang dari kaca toko material maupun rumah tangga yang sudah rusak. Kaca tersebut dikombinasikan dengan akar pohon jati yang tidak terpakai.

Bukan hanya itu, ia juga memproduksi hiasan dinding dari bulu ayam atau kerang-kerang yang dilunakkan. Beberapa produk dimodifikasi sesuai permintaan konsumen.

“Tetapi kita semuanya diekspor, tidak ada yang dipasarkan di Indonesia,” tambahnya.

Ayu bercerita ide bisnis rumahan yang ia kerjakan ini didasari pada keinginannya memberdayakan ekspor nasional. Sebelum berkecimpung di dunia bisnis, dirinya merupakan staf perusahaan logistik yang mengurus ekspor-impor Amerika Serikat dengan negara-negara Asia dan berbasis di California, AS.

“Awalnya saya kerja 2 tahun di California, urus ekspor-impor di Asia. Lalu saya berhenti, karena ingin kembangkan di Bali,” terangnya.

Menurutnya berbisnis lebih menyenangkan lantaran ia bisa memberi pekerjaan pada pengrajin di lingkungannya. Kendati ia tidak menampik banyak tantangan yang ia hadapi.

Menurut Ayu, setiap produk punya tantangan dan pasar sendiri-sendiri. Begitu pula dengan pekerjaan.

Ia bersyukur saat ini dukungan pemerintah terhadap usaha kecil menengaah (UKM) berorientasi ekspor amat baik. Pemerintah jugalah yang memfasilitasi Ayu mengikuti pameran di berbagai negara. (OL-4)