Menilik Perkembangan e-Learning di Asia Tenggara

ADVERTORIAL

Menilik Perkembangan e-Learning di Asia Tenggara

Senin, 25 April 2016 | 17:03 WIB

Berdasarkan laporan yang dipaparkan dalam Kaizen & INSEAD Education Symposium 2016 (KINSES 2016), tren edtech atau teknologi edukasi untuk mendukung e-learning berkembang secara global. Khususnya di Asia Tenggara. Pada simposium yang terselenggara di Dubai, Uni Emirat Arab, 27-28 Februari 2016 lalu diketahui bahwa nilai investasi untuk pengembangan teknologi edukasi hingga akhir 2015 telah mencapai USD 170 miliar. Terus bertumbuh tanpa ada tanda-tanda perlambatan.

“Pembelajaran secara online (e-learning) memberi kesempatan untuk para peserta didik untuk mendapatkan pendidikan berkualitas tinggi namun dengan tarif terjangkau. Khususnya bagi para peserta didik di negara-negara berkembang,” ujar Dr. Truman Pham, CEO dan pendiri Topica Edtech Group, penyelenggara pendidikan online terkemuka di Asia Tenggara. Topica telah menyediakan layanan pendidikan online di beberapa negara seperti Singapura, Thailand, Filipina, Vietnam dan juga Indonesia.

Namun demikian ia juga memaparkan dalam salah satu sesi dinamis bersama dengan beberapa pembicara dari Stanford University, Harvard, dan NYU Stern School of Business, bahwa sangat disayangkan saat ini pendidikan online di Asia dan Eropa belum diterapkan secara merata. Selain itu masih ada beberapa stigma negatif mengenai pendidikan online terkait dengan kesetaraannya dengan model pendidikan tradisional.

“Sebenarnya 70% dari 3.000 akademisi dari berbagai universitas di Amerika Serikat saat ini sudah meyakini bahwa pendidikan online setara dengan pendidikan tradisional. Bahkan sebenarnya lebih tinggi kualitasnya dibanding model pendidikan tradisional. Para guru dapat menerapkan metode yang terbalik dengan memberikan peserta didik video-video untuk dipelajari lebih dulu di rumah, sehingga di kelas mereka hanya fokus dalam mendiskusikan topik,” jelasnya di hadapan 50 pembicara dan delegasi institusi pendidikan dari 20 negara yang menjadi peserta KINSES 2016.

Pernyataan tersebut pun didukung oleh Peter Henry dekan NYU Stern School of Business. Ia mengatakan bahwa di masa yang akan datang permintaan pendidikan setingkat universitas dan pendidikan kejuruan akan meningkat dua atau tiga kali melebihi kemampuan pemerintah untuk menyediakannya. Mendorong investasi swasta di bidang pendidikan dan menyiapkan program-program pendidikan sarjana secara online di banyak negara, terutama Asia Tenggara akan menjadi solusi tepat.

Lembaga-lembaga swasta lain boleh saja mencontoh langkah nyata yang dilakukan oleh Topica Edtech Group selama ini. Topica sejak beberapa tahun lalu telah hadir di beberapa negara Asia Tenggara dan bekerja sama dengan universitas-universitas papan atas seperti AMA dan Negara Palawan untuk menyediakan pendidikan setingkat sarjana.

Topica menciptakan peluang lebih besar kepada siapa saja untuk dapat mengakses pendidikan dengan mudah dan dengan biaya yang lebih rendah. Mulai dari remaja usia sekolah hingga para pekerja kantoran yang punya jadwal padat.

Topica merancang beberapa program pendidikan online inovatif dengan memanfaatkan teknologi informasi terkini. Topica menghubungkan lebih dari 1.000 manajer dan praktisi ahli dari berbagai perusahaan terkemuka untuk berkontribusi sebagai pengajar. Karena sistemnya online, meskipun jadwal mereka sibuk, mereka masih sanggup menghabiskan 800 jam per tahun atau 3 jam per hari untuk mengajar dan menjawab pertanyaan peserta didik secara terperinci.

“Kami terkesan dengan metode pelatihan mereka. Mereka dapat memberikan pendidikan dengan kualitas tinggi namun harganya terjangkau terutama untuk orang-orang yang tidak punya waktu dan kesempatan mengikuti pembelajaran dengan metode tradisional di mana mereka harus hadir secara fisik. Ini tentu akan memberi kesempatan juga bagi orang-orang yang sudah bekerja untuk meningkatkan kemampuannya,” ujar Sandeep Aneja, pendiri Kaizen Private Equity.

Selain pendidikan sarjana, Topica Edtech Grup juga memiliki program utama untuk pembelajaran Bahasa Inggris yang diberi nama Topica Native. Program ini telah diikuti oleh lebih dari 10.000 peserta didik dari Indonesia, Thailand dan Vietnam. Peserta didik dapat belajar kapan saja dengan 16 jadwal kelas setiap harinya.

Sebanyak 200 guru asal Amerika, Australia dan Eropa akan membantu peserta didik belajar dan terbiasa menangkap Bahasa Inggris dengan banyak aksen berbeda. Metode yang diterapkan Topica dalam program ini juga digunakan oleh universitas terkemuka seperti Harvard dan Stanford University.

Terbukti para peserta didik mampu meningkatkan kepercayaan diri mereka berkomunikasi dengan orang asing dan meningkat kemampuan berbicara bahasa asingnya. Saat ini Topica juga tengah mengembangkan metode pembelajaran bahasa online dengan memanfaatkan teknologi Google Glass.

Untuk informasi lebih lanjut tentang program-program pembelajaran Topicakunjungi http://topi.ca/dB7. (Adv)