Saat Air Lebih Berharga daripada Emas BOCAH laki-laki itu tampak tengah asyik mandi di sebuah bendungan yang airnya mulai menyusut di Madhya Pradesh, India, Minggu (1/5) lalu. Meski keruh, cipratan… 1 … 3 Mei 2016, 02:15 WIB

BOCAH laki-laki itu tampak tengah asyik mandi di sebuah bendungan yang airnya mulai menyusut di Madhya Pradesh, India, Minggu (1/5) lalu.

Meski keruh, cipratan air cukup untuk mendinginkan tubuhnya dari sengatan terik matahari sore itu.

Di salah satu tepinya, beberapa orang bersenjata sigap mengawasi.

Dalam beberapa bulan terakhir, India dan sejumlah wilayah di Asia terkena serangan gelombang panas akibat El Nino.

Beberapa wilayah bahkan dilanda kekeringan. Di Thailand dan Vietnam, misalnya, banyak petani gagal panen.

Di India, krisis air bahkan berpotensi memercikkan api konflik di akar rumput.

Warga atau petani dari desa lain kerap mengambil air dari bendungan itu.

Itu sebab mengapa sejumlah pria bersenjata tersebut hilir mudik di bendungan.

Di situ mereka kadang tidak sekadar menumpang mandi, tapi sekaligus menjaga dam itu atas titah otoritas setempat.

Bendungan Barighat, demikian dam itu dinamai, menjadi suplai air bagi penduduk di Distrik Tikamgarh, Negara Bagian Pradesh.

Pihak berwenang setempat menugasi tentara atau sipil bersenjata menjaga kepastian suplai air tersebut.

Pejabat di India mengatakan sejumlah wilayah itu telah dilanda kekeringan dalam setahun terakhir.

Sekitar 300 juta orang atau seperempat populasi di negeri itu telah terdampak krisis tersebut.

“Air merupakan hal yang penting di wilayah ini, bahkan lebih dari emas,” ujar Purshotam Sirohi, salah seorang warga yang ditugasi pihak wali kota menjaga bendungan.

Namun, meski menjaga 24 jam, mereka tidak mampu mencegah air bendungan itu menyusut lantaran cuaca panas ekstrem.

Pihak berwenang setempat mengatakan pasokan air dari bendungan itu paling lama bertahan satu bulan ke depan.

Itu artinya setengah juta warga di wilayah tersebut terancam tak kebagian air dan memaksa pemerintah mendatangkan suplai dari wilayah lain.

“Situasinya sangat kritis, tapi kami coba mendistribusikan untuk semuanya,” ujar salah seorang perempuan pejabat dari dewan Kota Tikamgarh, Laxmi Giri Goswami.

“Kami berdoa agar Tuhan segera mendatangkan hujan,” imbuhnya.

Di Desa Dargai Khurd yang lokasinya tak jauh dari wilayah itu, kondisinya pun setali tiga uang.

Dari 17 sumur yang ada, cuma satu yang berisi air dan selebihnya kering kerontang.

Dengan kondisi cuaca panas yang mencapai 45 derajat celsius, 850 warga di desa itu terancam kehausan.

“Jika sumur satu-satunya itu kering, kami tidak punya lagi cadangan air untuk minum,” ujar Santosh Kumar, warga setempat, kepada AFP.

Kekeringan di sejumlah desa di India juga memaksa sebagian petani meninggalkan sawah mereka dan hijrah ke kota.

Di bawah terik matahari, mereka terpaksa bekerja sebagai buruh kasar.

Setidaknya, cucuran keringat mereka masih menghasilkan uang untuk menghidupi keluarga di kampung halaman. (Adiyanto/I-2)